Diplomasi Ekonomi Hillary
- Sunday, February 22, 2009, 14:44
- 124 views
- Add a comment
Hillary Rodham Clinton bukanlah sekadar seorang menteri luar negeri Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh Barack Obama. Ia adalah first lady yang delapan tahun mendampingi pemerintahan Bill Clinton, sang suami. Ia juga bekas pesaing Obama dalam penjaringan calon presiden dari Partai Demokrat. Dengan segudang pengalaman dan status sosial semacam itu, ia bukan tak mungkin akan menjadi menteri luar negeri paling berpengaruh. Dalam konteks inilah kita sebaiknya memanfaatkan kedatangannya ke Indonesia untuk kepentingan nasional.![]() Tentu kita berharap politik luar negeri AS akan lebih favourable terhadap Asia dan terutama Indonesia. Setidaknya, pemerintahan Obama memandang Asia sebagai belahan dunia terpenting bagi Amerika. Ini dengan kunjungan kali pertama Hillary ke negara-negara Asia terlebih dahulu. Ada dua isu ekonomi penting yang menyebabkan Amerika harus minta bantuan Asia. Pertama, Amerika perlu meyakinkan Asia, terutama China dan Jepang betapa kebijakan proteksionisme yang sekarang diusulkan oleh Obama merupakan policy yang tidak terlalu merugikan pihak mana pun, setidaknya dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, kebijakan belanja yang mengarahkan pada pembelian produk produk dalam negeri memang akan memukul mitra dagang Amerika. Hal ini tentu saja mengusik kepentingan Jepang yang sekarang saja sudah mengalami kontraksi sebesar 13,7 persen. Begitupun dengan China yang sebagian besar ekspornya ke Amerika bakal sangat dirugikan oleh kebijakan ini. Hillary dpastikan berargumen kebijakan proteksionisme itu sangat diperlukan untuk mempercepat recovery perekonomian AS. Jika krisis yang menimpa Negeri Paman Sam dibiarkan terlalu lama, maka mitra dagang mereka juga akan ikut terseret ke jurang resesi yang lebih dalam dan lama. Karena itu lebih baik mempersingkat resesi di Amerika walaupun getahnya harus ditanggung secara bersama-sama oleh negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Untuk isu ini, Indonesia jelas memiliki kepentingan besar. Seperenam ekspor Indonesia ditujukan ke Amerika, dan karena itu kita harus menegosiasikan agar barang ekspor kita tidak dihambat masuk ke Amerika. Selain itu lebih dari tiga per empat ekspor kita ditujukan ke Jepang, China dan Eropah yang merupakan wilayah yang paling dirugikan oleh kebijakan tersebut. Resesi yang lebih dalam akan terjadi di wilayah ini yang pada gilirannya akan menghantam pendapatan ekspor kita. Justru efek tidak langsung inilah yang diperkirakan akan lebih merugikan. Karena itu menjadi kepentingan negara-negara Asia secara kolektif untuk meminta jaminan efek kebijakan proteksi ini tidak akan berlangsung terlalu lama. Mungkin, kita harus mendesak mengenai batas waktu akhir penerapan kebijakan proteksi. Kedua, menyangkut kebutuhan pendanaan stimulus yang sekarang sudah mendapat persetujuan dari Kongres. Stimulus yang dirancang Obama jelas akan semakin memperbesar defisit anggaran pemerintah Amerika. Defisit ini tidak dapat sepenuhnya dibiayai dengan pendanaan domestik, karena pasar modal Amerika sedang tenggelam. Negara-negara Asia, dan lagi-lagi China dan Jepang, merupakan pihak potensial untuk menyediakan dana ini. Karena itu hal tersebut menjadi kepentingan Amerika untuk bisa menarik dana dari wilayah ini. Tentu pemerintah Amerika tidak akan meminjam secara goverment to goverment. Seperti biasa, mereka akan melakukan pinjaman melalui pasar modal global. Implikasinya kemungkinan besar modal dari Asia, termasuk Indonesia, akan tersedot oleh Amerika. Ini sangat mengkhawatirkan karena amat mengancam neraca pembayaran. Sementara penghasilan ekspor menurun, pada saat yang sama kita harus menghadapi pelarian modal. Kemungkinan besar, beberapa negara berkembang terutama yang hanya memiliki cadangan devisa relatif minim akan mengalami krisis neraca pembayaran seperti yang diprediksi oleh Paul Krugman, pemenang Hadiah Nobel Ekonomi 2008. Krisis ini akan termanifestasikan dalam bentuk depresiasi nilai tukar. Isu yang kedua ini jauh lebih penting bagi Indonesia. Pasalnya kita hanya memiliki cadangan devisa sebesar 51 miliar dolar AS, yang tentu tidak cukup untuk menghadapi gempuran spekulator. Sekarang saja, ketika kebijakan proteksionisme tersebut belum diterapkan, neraca pembayaran kita sudah oleng. Beberapa minggu terakhir ini nilai tukar rupiah sama sekali tidak bisa dijaga dengan baik oleh Bank Indonesia. Kita betul-betul akan menghadapi masalah yang cukup berat dalam bulan-bulan mendatang. Karena itu, ketika Hillary datang ke Jakarta maka kesempatan untuk membicarakan kedua hal ini janganlah disia-siakan. Kunjungan Hillary mungkin merupakan kesempatan satu-satunya untuk mengomunikasikan betapa kebijakan di sebuah negara besar akan membuat kita menghadapi kesulitan yang begitu besar. Hillary adalah tokoh kunci yang akan memberikan warna kebijakan ekonomi luar negeri pemerintahan Obama. Dengan memanfaatkan hubungan historis Obama dengan Indonesia, diharapkan diplomasi ekonomi menjadi lebih mudah. Tentu Amerika memiliki kepentingan atas Indonesia. Karena itu kita berharap bagaimana agar manfaat yang diterima jauh lebih besar daripada yang dikorbankan. Dalam situasi serbasulit seperti sekarang ini, perhatian terhadap masalah perekonomian harus menjadi tema utama dalam setiap upaya diplomasi. Jangan sampai sumberdaya kita dikeruk dan kita hanya jadi penonton. Selamat berubah. (35) — Dr Iman Sugema, direktur International Center for Applied Finance and Economics (InterCAFE) |
| Sumber: SuaraMerdeka |

