Manado, kitorang harus bangga
- Tuesday, May 12, 2009, 18:38
- 236 views
- Add a comment
MANADO- Rangkaian even bersejarah World Ocean Conference (WOC) 2009 yang diawali Senior Officials Meeting resmi dibuka Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi di Grand Kawanua Convention Centre, kemarin. Sebanyak 423 delegasi dari 76 negara dan 11 intergovermental organization (IGO) mengikuti pertemuan tersebut guna merumuskan kesepakatan penyelamatan lingkungan. Mereka sangat antusias dan memberikan apresiasi tinggi terhadap sumbangsi Indonesia terhadap penyelamatan lingkungan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan rasa terima kasihnya dan kebanggaan atas penyelenggaraan WOC yang dirangkaikan Coral Triangle Initiative (CTI) Summit. Lebih khusus, even WOC 2009 ini lahir dari ide brilian Sulut. “Kita saat ini harus berbangga karena Indonesia menggelar seminar kelautan tingkat dunia WOC yang dilaksanakan di Manado,” katanya di sela-sela konferensi pers untuk menghaturkan terima kasih kepada para pemilih Partai Demokrat.
Pernyataan yang disiarkan langsung salah satu TV swasta itu, SBY ikut menyampaikan rasa bangganya gelaran CTI Summit. Karena di Sulut bakal terkumpul 6 kepala negara, Indonesia, Filipina, Solomon Island, Timor Leste,, Papua Nugini, dan Malaysia. Sesuai jadwal, puncak CTI Summit digelar 15 Mei. Rencananya, SBY berada di Manado mulai 13-15 Mei.
Disisi lain, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengatakan, Indonesia menekankan perlunya upaya bersama negara-negara kelautan untuk mengatasi dampak perubahan iklim. “Tidak mungkin negara jalan sendiri-sendiri. Setiap negara punya rencana aksi nasional yang bisa dilaksanakan secara bersama-sama,” ujar Freddy, saat menyampaikan sambutan.
Gubernur SH Sarundajang dalam sambutannya kepada delegasi antara lain menjelaskan letak Sulut di wilayah Indonesia serta berbagai potensi-potensi yang ada di Sulut. “North Sulawesi is one of seven archipelago province that has a strategic position in northern of Indonesia, and placed in pacific RIM. North Sulawesi also directly bordered with philipines,” ungkap Sarundajang. Disamping itu, secara mendatail SHS juga menjelaskan potensi-potensi yang ada di Sulut khususnya di bidang kelautan.
“North Sulawesi has rich of natural resources included in marine and fishery, which ocean is a larger part of this province. North Sulawesi also has a beautiful nature view and specific culture of history, heritage Bunaken Ocean Park, The Bautiful Highland and lakes areas, our lush green sceneries, colorful flowers and some of our local industries, such as the traditional house industry in Tomohon,” ungkapnya.
Selain itu, Sarundajang juga menjelaskan tentang kontribusi pemerintah Sulut dan masyarakat terhadap masalah kelautan dunia serta harapan ide local WOC untuk lingkungan masa depan. “As a region which has a wide of marine area, North Sulawesi government has been doing some efforts seriously for marine pontential managing. But the reality, there is a marine resources decreasing qualitatively and quantitatively, slowly itu sure damaged ocean ecosystem which impact to the global warming, that has seriously threating for human and environment it self. As a part of global community, government and people of north sulawesi tried to give positive contribution from local idea implementation of WOC 2009 we expect this even will produce a global commitment to the world environmental inf future,” pungkas Sarundajang.
Di sisi lain, Menteri DKP RI Freddy Numberi menyampaikan WOC secara kumulatif akan membawa manfaat jelas terhadap kelangsungan kelautan. “The world ocean conference is an important opportunity to highlight the cumulative threats to uor oceans, including the effects of climate change and to seek political commitments and raising of the profile of oceans in relevant fora. Some have asked, why does the woc focus on oceans and climate change? The coupling issues really needs to be accorded a high priority, recognizing a significant proportion of economic development, food security and livelihoods are reliant on healthy oceans marine system,” pungkas Numberi.
Eddy Pratomo, Chairman SOM memaparkan bagian lain dari agenda SOM adalah mencoba mengusulkan Manado Ocean Declaration (MOD) menjadi komitmen bersama negara-negara tentang masalah laut. “Inti dari deklarasi ini menyangkut masalah pendanaan laut dalam mengatasi dampak perubahan iklim. Harapan Indonesia sendiri melalui deklarasi ini semua negara sepakat untuk memperhatikan laut,” tukas Dubes RI untuk Jerman ini sembari menambahkan diupayakan MOD ini memberikan kontribusi di UNFCCC di Kopenhagen tahun ini. Tema yang diangkat dalam Agenda SOM kemarin antara lain mengenai Ocean Observations and Analysis: Understanding Climate Change Impact to the Ocean dengan pembicara Dr Richard Spinrad, Assistant administrator for National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan Ms. Gabrille Goettsche-Wanli-Acting Director United Nations Division fo Ocean Affairs and Law of The Sea. Tema II membicarakan The Impacts of Climate Change on Coastal Communities dengan pembicara Drs Moses Murihungirire, Director for Resources Management, Ministry of Fisheries and Marines Resources, Namibia and Ms. Gabriella Bianchi, Senior Fishery Resources Officer, Fisheries and Aquaculture Department, Food Agriculture (FAO). Tema III membicarakan Preparedness and Improving Resilience of Coastal Communities to adapt to Climate Change dengan pembicara Ms Masnellyarti Hilman, Deputy Minister for Nature Consevation Enhancement and Environmental Degradation Control, State Ministry Of Environmental of Indonesia and Dr. Jaqueline Alder, Coordinator United Nations Environmental Program (UNEP) for Coastal and Marine.
Kerusakan lingkungan banyak disebabkan ulah manusia. Ini diungkapkan Prof DR Emil Salim, Mantan Menteri Lingkungan Hidup usai opening ceremony Senior Officer Meeting (SOM) WOC, kemarin. “Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini lebih banyak disebabkan karena ulah manusia itu sendiri. Akibat ulah manusia ini yang tidak mau menjaga lingkungan ini, berpengaruh pada penyerapan karbon yang berdampak pada perubahan iklim,” ungkap Salim sembari berharap dengan diangkatnya isu laut tidak ada lagi pengrusakan-pengrusakan lingkungan.
“Misalnya tidak ada lagi penangkapan ikan melalui bom dan racun,” terangnya. Berkaitan dengan WOC, Emil Salim menambahkan laut dapat mencegah kerusakan iklim.
“Selama ini belum ada pembahasan menganai masalah kelautan, karena itu dari WOC ini diharapkan ada suatu komitmen politik dari negara-negara untuk bersama menjaga laut,” ungkap Salim sembari menambahkan upaya pelestarian laut ini perlu didukung dengan dana yang memadai.
Di sisi lain, mantan Menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja yang bertindak sebagai moderator dalam pembahasan SOM juga menambahkan WOC ibarat “tongkat ajaib” yang mampu merubah kondisi wilayah pesisir yang rusak. “Langkah pertama yang diambil adalah melakukan rehabilitasi dan melakukan pembahasan tentang iklim global secara keseluruhan,” tukasnya.
Elizabeth McLeod yang bernaung di bawah The Nature Conservancy Scientist ini mengaku enjoy melakukan tugasnya di Indonesia. “Semoga lewat pertemuan dan pembahasan ini bisa dicapai satu kesepakatan yang bisa mengantisipasi dampak ini,” ujarnya.
Bagaimana tentang Manado? Lizzy, sapaannya, mengungkapkan kekagumannya begitu tiba di Manado. Ia merasa nyaman berada di Nyiur Melambai. “Suasana yang rukun juga terlihat dari berbagai tempat ibadah yang ada di Manado,” ujar Lizzy yang baru pertama kali ke Manado.
MANADO OCEAN DECLARATION
Sementara, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi meminta para delegasi Senior Officials Meeting draft Manado Ocean Declaration untuk duduk bersama, menggunakan informasi ilmiah yang ada untuk menyatukan tekad dan komitmen menuju COP-15. Dan meminta mereka untuk memikirkan dimensi kelautan pasca 2012.
Hal ini diungkapkannya dalam pidato pembukaan SOM-WOC, yang dihadiri 423 delegasi dari 87 negara dan inter-governmental organization, yang akan membahas Manado Ocean Declaration (MOD). Deklarasi MOD sendiri rencananya dibacakan dalam World Ocean Conference yang akan dibuka secara resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (14/5) lusa. Demikian siaran pers Panitia nasional WOC, kemarin.
Saat membuka International Exhibition of Science, Technology and Industry, Numberi mengatakan sangat penting bagi semua yang hadir, perusahaan, akademisi, LSM untuk berdialog dengan pemerintah-pemerintah lokal tempat mereka masing-masing beroperasi, dengan mengedepankan perencanaan matang berdasarkan kesempatan dan ketersediaan sumberdaya terbatas secara berkesinambungan.
Dubes Indonesia untuk Jerman, Eddy Pratomo yang juga ketua SOM-WOC mengatakan, belum ada perubahan besar substansi yang dibahas dalam MOD. Di aberharap smeoga nantinya draft akhir deklarasi tersebut bisa diungkapkan kepada publik.
Indonesia memiliki sekitar 5,8 juta kilometer kawasan laut. Indonesia menjadi tuan rumah UNFCCC COP-13 di Bali medio Desember 2007 lalu, di mana presiden SBY mengumumkan blueprint rencana aksi nasional mengenai perubahan iklim, serta menegaskan keanekaragaman hayati Indonesia bisa berfungsi sebagai penyerap karbon.
Pengusulan MOD ini sendiri memakan waktu cukup panjang. “MOD sempat dikonsultasikan hingga ke badan dunia dan PBB telah menyatakan agar isu kelautan dimasukkan dalam pembahasan mengenai perubahan iklim,” tukasnya.
Sekretaris Panitia Nasional (PanNas) WOC Prof Dr Indroyono Soesilo yang mendampingi Pratomo menambahkan, tak kalah menarik dari agenda pelaksanaan WOC dan CTI Summit 2009 ini yakni pembukaan side even Ocean Science Fair yang secara khusus memperkenalkan Google Ocean.
“Melalui google ocean ini, dunia dapat mempertajam informasi dan verifikasi ilmiah tentang data kelautan. Ini untuk pertama kalinya setelah lebih dulu hadir google earth,” ungkap Indroyono yang juga Sesmenkokesra sembari mengajak masyarakat Sulut untuk memanfaatkan momen pameran sebaik-baiknya.
